by.fidel
Dalam jaman yang kaya dengan pelbagai tawaran dan godaan seperti sekarang ini, aktifitas menabung terkadang menjadi kebutuhan yang terlewati dan terasa kurang bermanfaat. Hal ini terjadi karena sebagian besar manusia memang sedang terbuai dalam “modern life style” (gaya hidup modern) yang sering diasosiasikan dengan kecenderungan untuk selalu mengkonsumsi dan mengoleksi apa saja termasuk yang bukan dari dorongan kebutuhan pokoknya. Lantas kebiasaan menabung menjadi aktifitas yang di-nomordua-kan ketimbang menuruti arus jaman dan pertarungan gengsi. Akibatnya adalah terjadi kegoncangan hidup di masa yang akan datang terutama yang berhubungan dengan menejemen kehidupan ekonomi entah itu secara individu maupun secara sosial.
Menanggapi fenomena hidup seperti sekarang ini, bagi pribadi yang ingin hidupnya bahagia di kemudian hari tentu dapat mengantisipasinya dengan mulai menabung. Akan tetapi aktifitas ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Di satu pihak masing-masing orang harus bergelut dengan kecendrungan gaya hidup konsumtif yang tidak lain adalah produk jaman ini. Di pihak yang lain ia harus mampu menekan kekuatan “moneyflow” (pengeluaran uang) yang harus selaras dengan penghasilan dan kebutuhan pokok hidupnya.
Memaknai “Kotak Celengan”
Pada artikel ini, penulis ingin secara khusus membahas tentang sebuah media yang menjadi alat bantu bagi kita yang ingin menabung. Alat Bantu itu sudah kita kenal dengan nama “Kotak Celengan”. Penulis menganggap alat ini menjadi cikal-bakal bagi pembiasaan dan aktifitas menabung yang mengarah pada model tabungan yang lebih konvensional.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, istilah “Celengan” diartikan sebagai tabung/kotak tempat menyimpan uang. Dalam praktek sehari-hari, peran kotak celengan lebih sebagai tempat singgahnya uang recehan atau pecahan seribuan sisa belanja atau pelipur lara bagi anak-anak yang lagi merengek. Kotak inipun lebih akrab bagi dunia anak-anak dibanding orang dewasa. Namun kenyataan ini sebenarnya juga menciptakan sebuah atmosfir yang positif terutama bagi anak-anak, karena mereka mempunyai jangkaun masa depan yang lebih luas serta melewati proses menabung yang relatif lebih panjang. Dalam usia anak-anak, mengakrabkan diri dengan kotak celengan bisa berarti memulai sebuah aktifitas menabung.
Sebelum penulis mulai menyusuri lebih jauh pemahaman tentang istilah “Kotak Celengan”, perlu diketahui pula tentang maksud pemakaian istilah ini. Pemakaian istilah “Kotak Celengan” sebenarnya bisa menjadi sebuah istilah teknis yang bisa mewakili beberapa media lain yang dipakai dengan fungsi yang sama yakni tempat menyimpan uang selain lembaga perbankan. Pada kenyataannya, kotak celengan hanyalah salah satu media yang memudahkan dan memabntu setiap orang untuk menyimpan uangnya.
Penulis mencoba mengangkat makna yang lebih dalam dari sebuah “kotak celengan”. Bila dipahami secara sungguh-sungguh, “kotak celengan” sebenarnya mempunyai makna sebagai berikut: Pertama, arti yang paling umum seperti sudah disinggung diatas adalah sebagai tempat menyimpan uang. Pada tingkat pemahaman ini, orang lebih mengartikannya sebagai kotak menampung uang sisa hasil belanja yang mungkin terdiri dari pecahan yang sudah tidak populer lagi di mata pasar modern. Sehingga kebanyakan orang hanya memandang sepele tentang pentingnya kotak celengan yang seharusnya berada di dalam kamar rumah mereka atau dimiliki oleh anak-anak mereka. Sebagai akibatnya adalah berkurangnya pemberdayaan “Kotak Celengan” yang berlanjut pada “kerdilnya” kebiasaan untuk menabung.
Kedua, “Kotak Celengan” menjadi wadah di mana terbersitnya keinginan, dorongan dan hasrat untuk menabung. Ada sebuah potensi atau daya yang menggerakan yang ada di balik sebuah kotak celengan. Daya itu akan selalu terasa bila kita terus mengakrabkan diri dengannya. Bagi pemula (terutama kalangan anak-anak), langkah awal yang diambil adalah perlu diberi informasi yang cukup tentang makna umum dan manfaat dari kotak ini. Ketika mereka sudah mengetahui dan memulai menabung, maka potensi sebuah kotak celengan akan menggerakkan hati mereka setiap kali mereka bersua dengan kotak ini. Daya geraknya akan lebih terasa bila aktifitas menyimpan uang dilakukan secara konstan.
Ketiga, “Kotak Celengan” menjadi perangsang bagi tergeraknya aktifitas menabung. Pada tingkat pemahaman ini, “Kotak Celengan” menjadi pemicu bagi setiap orang yang sudah mengenal dan mengetahui makna globalnya akan tetapi belum memulai menabung. Bagi mereka yang sudah membiasakan diri dengan aktifitas menabung, kebanyakan mereka telah memulai dengan pola: “berawal dari sebuah media/cara sederhana seperti kotak celengan atau apapun bentuknya sampai pada tingkat mengivestasikan atau mendepositokan penghasilan mereka”.
Membangun Kebiasaan Menabung
Dalam bukunya yang berjudul: Master Your Mind Design Your Destiny, Adam Khoo mengatakan bahwa untuk menciptakan sebuah kebiasaan baru kita perlu memulai dengan sebuah perilaku yang baru. Perilaku baru itu harus dikondisikan sedemikian rupa serta dijaga konsistensinya agar menghasilkan apa yang kita kehendaki.
Pada dasarnya, semua aktifitas yang sudah menjadi “habbit” (kebiasaan) selalu berawal dari pengambilan sikap untuk “memulai” menciptakan prilaku yang baru. Begitu pula dengan aktifitas menabung. Bagi orang yang ingin sukses dengan menabung, maka perlu menciptakan perilaku menabung sehingga aktifitas menabung menjadi “kebiasaan”. Hal itu berarti bahwa aktifitas menabung tidak sekedar aksi menyimpan uang bilamana perlu, tetapi menjadi sebuah rutinitas yang terangkai dari sebuah proses yang berkelanjutan.
Untuk menjadikan aktifitas menabung sebagai sebuah kebiasaan, maka langkah awal yang sangat krusial adalah membuat keputusan untuk memulai. Langkah awal ini tidaklah mudah karena menjadi kelemahan sebagian besar orang dalam membangun sebuah kebiasaan adalah bagaimana “memulai” kebiasaan itu. Hal ini lebih terasa pada kalangan dewasa yang memang terobsesi dengan banyak cita-cita dan harapan di masa yang akan datang.
Lain halnya dengan kelompok anak-anak. Mereka belum dewasa dalam berpikir karena wawasan yang lebih sempit tentang menabung. Oleh karena itu mereka membutuhkan pendampingan pihak lain seperti orang tua yang harus mampu mengajarkan mereka tentang bagaimana mulai menabung. Pihak lain juga, terutama orang tua harus bisa menciptakan kondisi yang memungkinkan serta bisa memberi arahan yang tepat tentang bagaimana anak menghadapi masa depannya.
Proses pembiasaan menabung bagi anak-anak dapat dilakukan dengan bebarapa tahap. Tahap Pertama. Penulis menyebutnya tahap “konseptualisasi”. Dalam tahap ini anak-anak perlu ditanamkan konsep yang benar tentang arti menabung serta manfaatnya di masa yang akan datang bagi dirinya sendiri. Menabung adalah aktifitas menyimpan atau menyisihkan penghasilan (berupa uang) untuk kebutuhan hidup di masa yang akan datang. Dengan menabung sejak dini kita bisa merancang masa depan seperti yang kita cita-citakan.
Tahap kedua. Tahap ini disebut tahap “per-contoh-an”. Anak-anak diberikan contoh lewat praktek menabung dari orang tua sendiri atau melalui model percontohan orang-orang yang sukses secara ekonomi dengan menabung di usia dini. Model ini akan lebih efektif bila model percontohan itu diambil dari tokoh atau figur yang sudah mereka kenal. Pada dasarnya anak-anak suka mengidolakan seorang tokoh karena kehebatan/keberhasilan dalam hal tertentu sehingga model inipun lebih menyapa kejiwaan mereka.
Tahap ketiga. Tahap ini dirasakan penulis sebagai tahap yang sangat penting. Penulis menyebutnya sebagai tahap “mediasi”. Pada tahap ini anak-anak perlu disediakan sebuah media yang berguna sebagai pemberi stimulus serta kemudahan untuk memulai aktifitas menabung. Seperti diutarakan di atas, media yang paling memungkinkan adalah “tabung celengan”. Tabung/kotak ini memberikan banyak kemudahan seperti mudah diperoleh, mudah dipakai dan mudah disimpan. Selain itu secara fisik, penampilan dari tabung ini sangat digemari anak-anak karena bentuknya yang lucu dan bervariasi.
Penampilan fisik kotak celengan memang cenderung membuat anak merasa tertarik untuk memiliki bahkan merasa ‘menyayangi’. Sehingga pemanfaatan kotak tersebut juga lebih terdorong oleh faktor kesukaan karena modelnya yang unik. Rasa sayang pada kotak tersebut bisa membuka peluang bagi orang tua untuk mengarahkan anak agar mengungkapkan kecintaannya dengan cara memberi “makan” (berupa uang)/meyimpan uang. Tentunya langkah ini sangat sederhana akan tetapi cukup efisien bagi tumbuhnya kebiasaan menabung dalam diri anak. Sesuai dengan tahap perkembangan dan pemahaman yang sederhana, anak-anak harus mulai dengan hal yang sederhana dan menyenangkan. Dari hal yang sederhana dan menyenangkan ini akan bisa tumbuh sebuah kebiasaan.
Menghadapi Halangan Untuk Memulai Menabung
Persoalan terbesar bagi kebanyakan orang yang ingin membangun sebuah kebiasaan adalah bagaimana harus memulainya. Begitu sulit orang memulai mengerjakan atau mengambil inisiatif untuk mulai sehingga begitu banyak kesempatan terlewatkan begitu saja. Keraguan atau keengganan untuk mulai beraksi selalu menggerogoti inisitisiatif diri karena pikirannya dikuasai oleh kecurigaan akan kegagalan dan hasil yang tidak optimal.
Sehubungan dengan kiat membangun kebiasaan untuk menabung, ada satu cara yang cukup menggerakkan hati yang dapat ditempuh agar kita dapat melewati halangan tersebut. Cara yang dimaksud adalah men-“support” diri sendiri untuk mencintai diri dan masa depan sendiri dalam bentuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk dirinya sendiri (mengutip M.Icksan, seorang perencana keuangan dari Primaplaner). Seberapa besar cinta kita pada diri kita sendiri dan masa depan kita apabila sebagian besar nominal penghasilan kita harus kita serahkan kepada para penjual barang dan jasa. Kita akan lebih mudah memikirkan bagaimana membayar pinjaman, rekening listrik dan air atau kebutuhan sesaat. Sedangkan kita sendiri tidak atau belum mau “membeli” dan menghargai diri kita dengan cara menyisihkan terlebih dahulu sedikit penghasilan kita untuk masa depan kita. Walaupun demikian bukan berarti kita menghindari kewajiban kita terhadap segala tuntutan serta kebutuhan yang aktual di masa sekarang. Akan tetapi menyisihkan sedikit dari penghasilan kita dalam bentuk menabung akan menjadi ekspresi dari kecintaan kita pada diri dan masa depan kita.
Dari Kebiasaan Menabung Menuju Masa Depan
Kebiasaan menabung menjadi modal yang sangat berharga bagi kehidupan kita terutama anak-anak kelak. Dengan kebiasaan yang sudah tumbuh dan terpupuk dalam diri anak, maka mereka akan lebih mudah mengarungi masa depan mereka sendiri. Hal itu terjadi karena mereka sudah mulai dan membiasakan diri untuk merancang masa depannya sejak dini. Dari segi finansial, mereka akan lebih mudah me-“manage” penghasilan yang mereka peroleh kelak. Dengan demikian kehidupan ekonomi mereka juga akan sangat terbantu dan terdongkrak pada level yang lebih baik.
Selasa, 01 Juni 2010
FENOMENA TUKUL ARWANA DI TENGAH KEGALAUAN HATI
Kecemasan melanda warga negeri ini lantaran bencana yang tiada henti. Sementara sebagian besar masyarakat terperangkap dalam kegalauan, Tukul Arwana tampil bak Malaikat Penghibur yang menghadirkan pesona dan keceriaan.
Sosok Tukul Arwana tiba-tiba mencuat lewat program Empat Mata yang ditayangkan Stasiun Televisi Trans7 setiap jam 21.30 sampai jam 23.00 WIB. Betapa tidak, tampilan kocaknya telah menghadirkan keceriaan bagi masyarakat umumnya dan para pemirsa Trans7 khususnya. Kepiawaiannya memadukan humor dan tingkah uniknya membuat para pemirsa seakan lupa akan penderitaan akibat bencana yang tak pernah berhenti.
Kita telah mengalami bersama begitu banyak dan rutinya bencana yang menimpa negri kita akhir-akhir ini . Kecelakaan dan bencana alam terjadi hampir merata diseluruh sudut negeri tercinta ini. Semua ruang atmosfir negeri, baik darat, laut, maupun udara telah dihinggapi aroma ketakutan. Bahkan rumah tempat tinggalpun bukan lagi menjadi tempat bernaung yang aman, karena sekali waktu mungkin akan terendam banjir atau tertimbun tanah longsor. Rasa takut dan cemas menjadi santapan emosi sehari-hari. Sebagian besar aktifitas hidup menjadi terganggu oleh rasa tidak aman. Bahkan gelak tawa dan canda-ceria seakan hilang dari wajah anak negri. Akan tetapi hati yang galau itu seakan terhibur saat mendengar ocehan dan aksi seorang Tukul Arwana di acara Empat Mata.
Ketika saya melintas di sebuah lorong kecil, telinga saya mendengar beberapa penggal kalimat, …puas..! puas..! Tak sobek-sobek mulutmu….! Kembali ke lap…top! Kalimat-kalimat pendek ini sebenarnya adalah kata-kata yang selalu keluar dari bibir seorang Tukul ketika ia tampil di hadapan pemirsa. Ternyata kalimat-kalimat itu bukan lagi milik seorang Tukul, tetapi menjadi milik semua orang yang merasa terhibur ketika menyaksikan acara Empat Mata. Bahkan lebih dari itu, kalimat-kalimat itu sering terdengar dari ruangan-ruangan ber-AC, ruangan kelas di sekolah, gedung pertemuan, bahkan sampai dibeberapa televisi swasta lain. Saya lalu bertanya, apakah demam Tukul telah melanda habitat yang sedang galau hatinya ini? Apakah warga negri ini memang sedang haus hiburan? Apakah rakyat kita memang menginginkan sosok seorang penghibur sejati seperti Tukul Arwana? Ataukah rakyat kita sedang bosan bertemu terus dengan para penyusah?
Terlepas dari jawaban atas pertanyaan –pertanyaan tersebut, satu hal yang pasti bahwa kita tidak ingin terus tenggelam dalam kesedihan. Kita perlu bangkit dan menghapus air mata kesedihan untuk menatap masa depan. Isak tangis harus diganti dengan canda ria. Sehubungan dengan itu, sosok Tukul Arwana dengan Laptopnya telah menebar zat penenang, walau untuk sesaat, agar kita membangun kembali kekuatan menghadapi tantangan hidup yang terus menghadang. Tukul Arwana ibarat opium yang membuat orang melupakan rasa sakit, sedih dan gelisah walau untuk sesaat. Tampilan Tukul setidaknya telah mengahadirkan kembali senyum tawa di wajah anak negeri yang telah lebam oleh bencana. Tukul pula yang meramu suasana biasa-biasa menjadi luar biasa. Para pemirsa Trans7 berkali-kali dibuat tertegun ketika Tukul mengemas kata dengan nuansa negatif dari ucapan bibirnya menjadi sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Tidak hanya itu, sang ayahnya pun rela dihadirkan sebagai pelengkap dari kesukesesan entertainnya (hiburan).
Bob Losyk, (seorang pemerhati masalah stress), dalam bukunya yang berjudul: Kendalikan Stres Anda, mengatakan bahwa berbagai peristiwa sedih atau bencana yang dialami seseorang akan menimbulkan beban mental yang sangat berat bila orang tersebut tidak segera berupaya untuk keluar dari tekanan . Lebih lanjut ia mengatakan, untuk keluar dari tekanan jiwa, salah satu cara yang perlu ditempuh adalah sesering mungkin berada dalam suasana canda-ria. Dengan bercanda beban orang yang stress akan semakin berkurang.
Seperti pendapat Bob Losyk diatas, tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa sosok Tukul dalam acara Empat Mata adalah obat stress bagi para pemirsa yang mengalami tekanan hidup akibat bencana yang rutin terjadi akhir-akhir ini. Bagi semua warga di luar para penikmat acara Empat Mata, mungkin kita juga membutuhkan banyak figur penghibur seperti Tukul Arwana. Kita membutuhkan banyak tokoh yang menebar keceriaan bagi warga, bukan tokoh yang menebar derita. Kita membutuhkan tokoh yang membuat warga tersenyum, bukan tokoh yang terhibur oleh air mata warga. Seandainya semua tokoh atau para pemimpin kita adalah penghibur sejati seperti Tukul Arwana rakyat tidak akan sering merintih dan menangis. Dengan demikian hidup bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dijalani.
Oleh
FIDELIS GELE, S.Fil
(Pengajar SD YPPI II-Donokerto-Surabaya)
TULISAN INI TELAH DIMUAT DI MAJALAH KANA, EDISI MEI 2007
Sosok Tukul Arwana tiba-tiba mencuat lewat program Empat Mata yang ditayangkan Stasiun Televisi Trans7 setiap jam 21.30 sampai jam 23.00 WIB. Betapa tidak, tampilan kocaknya telah menghadirkan keceriaan bagi masyarakat umumnya dan para pemirsa Trans7 khususnya. Kepiawaiannya memadukan humor dan tingkah uniknya membuat para pemirsa seakan lupa akan penderitaan akibat bencana yang tak pernah berhenti.
Kita telah mengalami bersama begitu banyak dan rutinya bencana yang menimpa negri kita akhir-akhir ini . Kecelakaan dan bencana alam terjadi hampir merata diseluruh sudut negeri tercinta ini. Semua ruang atmosfir negeri, baik darat, laut, maupun udara telah dihinggapi aroma ketakutan. Bahkan rumah tempat tinggalpun bukan lagi menjadi tempat bernaung yang aman, karena sekali waktu mungkin akan terendam banjir atau tertimbun tanah longsor. Rasa takut dan cemas menjadi santapan emosi sehari-hari. Sebagian besar aktifitas hidup menjadi terganggu oleh rasa tidak aman. Bahkan gelak tawa dan canda-ceria seakan hilang dari wajah anak negri. Akan tetapi hati yang galau itu seakan terhibur saat mendengar ocehan dan aksi seorang Tukul Arwana di acara Empat Mata.
Ketika saya melintas di sebuah lorong kecil, telinga saya mendengar beberapa penggal kalimat, …puas..! puas..! Tak sobek-sobek mulutmu….! Kembali ke lap…top! Kalimat-kalimat pendek ini sebenarnya adalah kata-kata yang selalu keluar dari bibir seorang Tukul ketika ia tampil di hadapan pemirsa. Ternyata kalimat-kalimat itu bukan lagi milik seorang Tukul, tetapi menjadi milik semua orang yang merasa terhibur ketika menyaksikan acara Empat Mata. Bahkan lebih dari itu, kalimat-kalimat itu sering terdengar dari ruangan-ruangan ber-AC, ruangan kelas di sekolah, gedung pertemuan, bahkan sampai dibeberapa televisi swasta lain. Saya lalu bertanya, apakah demam Tukul telah melanda habitat yang sedang galau hatinya ini? Apakah warga negri ini memang sedang haus hiburan? Apakah rakyat kita memang menginginkan sosok seorang penghibur sejati seperti Tukul Arwana? Ataukah rakyat kita sedang bosan bertemu terus dengan para penyusah?
Terlepas dari jawaban atas pertanyaan –pertanyaan tersebut, satu hal yang pasti bahwa kita tidak ingin terus tenggelam dalam kesedihan. Kita perlu bangkit dan menghapus air mata kesedihan untuk menatap masa depan. Isak tangis harus diganti dengan canda ria. Sehubungan dengan itu, sosok Tukul Arwana dengan Laptopnya telah menebar zat penenang, walau untuk sesaat, agar kita membangun kembali kekuatan menghadapi tantangan hidup yang terus menghadang. Tukul Arwana ibarat opium yang membuat orang melupakan rasa sakit, sedih dan gelisah walau untuk sesaat. Tampilan Tukul setidaknya telah mengahadirkan kembali senyum tawa di wajah anak negeri yang telah lebam oleh bencana. Tukul pula yang meramu suasana biasa-biasa menjadi luar biasa. Para pemirsa Trans7 berkali-kali dibuat tertegun ketika Tukul mengemas kata dengan nuansa negatif dari ucapan bibirnya menjadi sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Tidak hanya itu, sang ayahnya pun rela dihadirkan sebagai pelengkap dari kesukesesan entertainnya (hiburan).
Bob Losyk, (seorang pemerhati masalah stress), dalam bukunya yang berjudul: Kendalikan Stres Anda, mengatakan bahwa berbagai peristiwa sedih atau bencana yang dialami seseorang akan menimbulkan beban mental yang sangat berat bila orang tersebut tidak segera berupaya untuk keluar dari tekanan . Lebih lanjut ia mengatakan, untuk keluar dari tekanan jiwa, salah satu cara yang perlu ditempuh adalah sesering mungkin berada dalam suasana canda-ria. Dengan bercanda beban orang yang stress akan semakin berkurang.
Seperti pendapat Bob Losyk diatas, tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa sosok Tukul dalam acara Empat Mata adalah obat stress bagi para pemirsa yang mengalami tekanan hidup akibat bencana yang rutin terjadi akhir-akhir ini. Bagi semua warga di luar para penikmat acara Empat Mata, mungkin kita juga membutuhkan banyak figur penghibur seperti Tukul Arwana. Kita membutuhkan banyak tokoh yang menebar keceriaan bagi warga, bukan tokoh yang menebar derita. Kita membutuhkan tokoh yang membuat warga tersenyum, bukan tokoh yang terhibur oleh air mata warga. Seandainya semua tokoh atau para pemimpin kita adalah penghibur sejati seperti Tukul Arwana rakyat tidak akan sering merintih dan menangis. Dengan demikian hidup bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dijalani.
Oleh
FIDELIS GELE, S.Fil
(Pengajar SD YPPI II-Donokerto-Surabaya)
TULISAN INI TELAH DIMUAT DI MAJALAH KANA, EDISI MEI 2007
Sir Francis Bacon: Filsafat Manusia Tiada Sanggup Menandingi Hikmat Allah
Sir Francis Bacon: Filsafat Manusia Tiada Sanggup Menandingi Hikmat Allah
» Kategori: Karya1561 - 1626Ilmuwan
Apakah filsafat Kristen cocok untuk ilmu pengetahuan? Mungkin pertanyaan ini pernah tebersit dalam pikiran kita.
Meskipun bukan seorang ilmuwan praktis, Bacon dianggap sebagai "bapak ilmu pengetahuan modern" oleh banyak sejarawan. Filsafat dan tulisannya sangat berpengaruh dalam mengobarkan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17. Banyak kaum cendekiawan seperti Robert Boyle dan Isaac Newton menerima "filsafat baru" Bacon yang menekankan empirisme (teori yang menyatakan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh dengan pengalaman langsung) dan induksi. Setelah menampik ketergantungannya pada pendapat para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles, ilmu pengetahuan baru semakin merebak ke permukaan dan memunculkan banyak sekali penemuan baru yang terus bertambah hingga kini. Namun "filsafat baru" ini sama sekali bukan hal yang baru; karena hal ini sudah ada dalam Alkitab. Sang "bapak ilmu pengetahuan modern" ini adalah seorang Kristen yang percaya kepada Alkitab dan yang menjadikan doktrin Kristen sebagai dasar pemikirannya.
John Henry, profesor ilmu sejarah dari Universitas Edinburg menulis biografi Bacon yang berjudul "Knowledge is Power: How Magic, the Government and an Apocalyptic Vision Inspired Francis Bacon to Create Modern Science." (2002) Henry menyatakan bahwa Sir Francis Bacon "menemukan ilmu pengetahuan modern" karena terinspirasi oleh ketiga hal ini: "magis" (baca: iman Kristen), "penguasa" (baca: pengetahuan untuk kebaikan manusia), dan "visi apokaliptik" (artinya, kepercayaan harfiah akan nubuatan Daniel dalam Daniel 12:4, "Banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah"). Buku ini memperjelas hubungan Bacon dan Alkitab.
Dalam sebuah ulasan buku ini yang ditulis 22 Agustus 2002 pada majalah Nature, Alan Stewart berkata, "Bacon begitu yakin bahwa dia hidup pada suatu masa saat pengetahuan semakin bertambah seperti yang dikatakan dalam Alkitab". Stewart melanjutkan, "Mungkin bagian yang paling menarik dari buku ini adalah bagian yang membahas tentang istilah 'magis' Bacon, yang diartikan Henry sebagai agama. Dalam buku ini dia membuat lebih banyak alasan yang meyakinkan ketimbang menelisik fondasi filsafat Bacon secara mendalam." Perlu diperhatikan, baik Stewart maupun Henry bukanlah ahli apologetika Kristen, namun keduanya mengakui bahwa Alkitab memiliki dampak langsung terhadap revolusi ilmu pengetahuan. Ibarat percikan api dalam sekring, Alkitab mengobarkan impian akan sebuah peralatan baru dalam benak Bacon, sebuah "Novum Organum", yang bisa menuntun kepada peningkatan pengetahuan, persis seperti yang disebutkan Alkitab tentang akhir zaman.
Inti filsafat Bacon adalah metode induksi: berlawanan dengan metode deduksi untuk memahami sifat alam semesta seperti yang dilakukan para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles dan Galen, ilmuwan harus membangun teori dari nol, mengumpulkan fakta-fakta, mengukur sesuatu, mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti pengamatan, kemudian membuat hipotesa untuk menjelaskannya. Ujilah hipotesa-hipotesa tentang fakta-fakta yang ada. Bacon yakin cara tersebut akan memberikan cara pasti untuk mendapat kebenaran daripada memercayai alasan-alasan manusia yang bisa saja keliru, dan akan muncul pada masa keemasan penemuan. Metode ilmiah yang kita pelajari di sekolah sebagian besar menganut pemikiran Bacon: mengumpulkan hasil observasi, membuat hipotesa untuk menjelaskannya, menguji hipotesa tersebut, dan menolak semua alasan-alasan yang tidak konsisten melalui observasi. Hipotesa yang cocok dengan tes empiris dapat berkembang menjadi suatu teori dan hukum.
Filsafat ilmu pengetahuan telah berubah dan semakin matang karena Bacon dan beberapa filsuf lain terus-menerus memperdebatkan apa yang benar antara ilmu pengetahuan sejati dibanding ilmu pengetahuan palsu. Idealisme Bacon tampaknya terlalu sederhana dan tidak praktis; sekarang kita menyadari perlunya teori-teori ilmiah untuk membuat prediksi dan perlunya keabsahan dalam suatu hipotesa. Syukurlah; metode Bacon sudah terlihat hasilnya: penemuan baru yang utama dalam disiplin ilmu kimia, fisika, biologi, dan astronomi, penemuan cabang-cabang ilmu pengetahuan baru, penumbangan keyakinan-keyakinan yang salah yang sudah lama dipertahankan, dan kelompok baru seperti Royal Society di Inggris.
Tetapi tidakkah penolakan para ahli melemahkan keyakinan Bacon akan otoritas Alkitab? Terkadang kaum skeptis menggambarkan para ilmuwan Kristen itu seperti para peragu sembunyi-sembunyi yang memperlihatkan kesalehan kekristenannya untuk menghindari masalah. Menurut sudut pandang ini, Bacon seolah melapisi filsafatnya dengan ayat-ayat Alkitab agar filsafatnya itu menarik bagi para rohaniwan. Namun jika memang demikian, Bacon tidak akan menulis puisi indah, yang timbul dari lubuk hatinya yang terdalam, yang meninggikan Allah dan Alkitab. John Henry sama sekali tidak mengatakan bahwa Bacon itu munafik. Dari penelitiannya, pandangan alkitabiah benar-benar menjadi dasar filsafat ilmu pengetahuan Bacon, bukan sekadar dalihnya. Yang menarik, sarjana daratan Eropa seperti Descartes dan beberapa kaum yang meragukan Alkitab lainnya tidak setuju dengan pandangan Bacon tentang metode induksi dan empirisme, namun lebih menghargai akal manusia.
Lalu, apakah itu otoritas Alkitab? Bagi Francis Bacon, Alkitab menunjukkan cara pandang terhadap Allah, dunia, dan manusia yang menerima ilmu pengetahuan sebagai mandat yang terhormat. Alam ini adalah mesin canggih yang dibuat oleh Allah, dan Allah memberi manusia kecerdasan dan tugas untuk menemukan kegunaannya. Akal manusia saja tidak cukup; akal perlu dipandu oleh doktrin Alkitab tentang natur Allah dan dunia, dan dengan penyelidikan hukum-hukum sang Pencipta. Keyakinan akan hukum-hukum alam adalah warisan Alkitab. Sir Francis percaya bahwa dalam penggenapan nubuatan Daniel, pada akhir zaman pengetahuan manusia akan bertambah-tambah dengan menggulingkan para ahli yang tidak alkitabiah seperti Aristoteles dan dengan menyelidiki penyataan umum Allah (penciptaan) dengan pikiran-pikiran yang telah diciptakan seturut gambar-Nya.
Coba perhatikan kembali dasar alkitabiah dari ketiga filsafat Bacon yang digambarkan dalam judul buku biografi Henry:
1."magis" (pilihan kata yang disayangkan), maksudnya kepercayaan beragama yang Stewart sebut "fondasi terdalam" filsafat Bacon,
2."penguasa", yaitu tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada pemerintah untuk bertindak bagi kebaikan manusia, dan
3."visi apokaliptik," keyakinan bahwa nubuatan Daniel dapat menginspirasi kita untuk mengembangkan pengetahuan untuk kebaikan umat manusia.
Walaupun Alkitab tidak memberikan sebuah metode ilmiah, Alkitab memberikan pandangan dasar tentang Allah, manusia, dan dunia yang memungkinkan adanya perkembangan ilmiah. "Besar perbuatan-perbuatan TUHAN," kata penulis Mazmur 111:2, "layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya."
Francis Bacon bukanlah seorang skeptis sembunyi-sembunyi; baginya Alkitab merupakan kunci untuk membebaskan manusia dari pemikiran para ahli yang salah dan kitab Kejadian mendorong kita untuk melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh sebagai pengurus ciptaan-Nya. Termasuk mempelajari ilmu pengetahuan. Dia menganggap paham ateis sebagai paham kaum tidak terpelajar: "Filsafat yang dangkal menarik pikiran manusia ke arah ateisme," ejeknya, "namun filsafat yang dalam membawa pikiran manusia ke arah kepercayaan." (Bagi orang yang hidup pada zaman Ratu Elizabeth, agama sama artinya dengan kekristenan.) Senada dengan itu, katanya "Filsafat, jika tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh, membangkitkan keraguan; tapi jika didalami dengan sungguh-sungguh, akan menghilangkan keraguan." Bagi Bacon, ilmu pengetahuan merupakan suatu tindakan penyembahan [kepada Allah] dan perisai terhadap kekeliruan. Dia berkata, "Ada dua kitab yang diletakkan di hadapan kita untuk dipelajari agar kita terhindar dari kesalahan: pertama, Alkitab yang menyingkapkan kehendak Allah; yang kedua adalah kitab tentang ciptaan-Nya yang menyatakan kuasa-Nya."
Orang lebih mengingat Sir Francis Bacon karena gagasan-gagasannya. Dia lahir di London tahun 1561 setelah Elizabeth I naik tahta, ketika masyarakat Inggris mengalami kemajuan yang drastis. Ia hidup sezaman dengan Galileo, Shakespeare, Sir Walter Raleigh, dan Sir Francis Drake. Bacon tidak bekerja sebagai ilmuwan tapi sebagai pengacara dan politisi, menjadi pengacara tahun 1582 dan anggota DPR Inggris tahun 1584. Dia diberi gelar ksatria [Sir] pada masa pemerintahan raja baru, James I, tahun 1603 dan kemudian menjadi Wakil Jaksa Agung, Jaksa Agung, dan menjelang 1618 menjadi Hakim Agung. Sayangnya, tahun 1621 reputasinya rusak karena kasus suap. Meskipun dia harus berjuang di hadapan raja dan parlemen, dia mengakui kesalahannya dan harus mengundurkan diri dengan rasa malu. Dia lahir ke dunia tanpa membawa apa-apa; masa mudanya sangat miskin, dan pada hari tuanya kehilangan keberuntungan dan reputasi. Dia meninggal tahun 1626 ketika melakukan percobaan pembuktian. Secara keseluruhan, hidup dan karier Bacon hampir tidak menonjol; karakter pribadinya "sama sekali tidak mengagumkan," menurut Frederic R. White. Dia tidak membuat penemuan yang signifikan dan tidak menciptakan hukum ilmiah. Akan tetapi gagasannya yang mendalam mencerminkan kedalaman dan kejeniusan pikiran.
Bacon adalah seorang filsuf urutan pertama yang memengaruhi peradaban Barat selama berabad-abad meskipun selama hidupnya ia dikritik terus-menerus oleh para filsuf lain. Dia menganggap orang-orang yang mengkritiknya itu "Orang-orang cerdas yang terkurung oleh beberapa penulis, khususnya Aristoteles, sang Diktator mereka." Daripada mengulangi ide-ide lama dengan metode deduktif, Bacon lebih mengusulkan "penyelidikan baru," misalnya, mengumpulkan bukti melalui percobaan kemudian membuat interpretasi daripada membuat deduksi natur (sifat) suatu hal dari bentuk dan prinsip universal. Ensiklopedia Britannica menjelaskan bahwa dia bukan sembarang penganut empirisme; dia percaya pada perumusan hukum dan penyamarataan; "Akan tetapi tempat abadinya dalam sejarah filsafat dunia terletak pada kebulatan tekadnya bahwa pengalaman adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan semangatnya yang besar demi sempurnanya ilmu pengetahuan alam."
Di sisi lain, seperti [Blaise] Pascal, Bacon juga memiliki bakat yang menonjol dalam hal kata-kata mutiara. Istilah yang disebut berdasarkan namanya merupakan perkataan yang sangat tepat diucapkan, seperti "buah apel emas di pinggan perak" (Amsal 25:11). Berikut ini adalah beberapa contoh kata-katanya: Pengetahuan adalah kekuasaan. Pengharapan adalah sarapan pagi yang baik tapi makan malam yang buruk. Uang itu ibarat pupuk, tidak ada gunanya kecuali jika itu disebarkan. Kebijaksanaan dalam bertutur lebih berharga daripada kemampuan berbicara yang baik.
Masih banyak lagi kutipan-kutipan yang lainnya, namun demikian kata-kata Bacon membawa visi Atlantis Baru, sebuah jalan baru bagi pengetahuan untuk disebarkan ke seluruh dunia. Sebuah buku karya Cornelius Hunter yang berjudul "Darwin’s God" menunjukkan bahwa bukti-bukti yang disodorkan oleh Darwinisme pada akhirnya hanyalah suatu metafisika belaka. Entah mereka berbicara tentang homologi, fosil atau evolusi mikro, pengamatan mereka itu insidentil; argumen yang digunakan oleh penganut Darwinisme untuk menentang penciptaan berpusat pada apa yang dikehendaki dan tidak kehendaki oleh Pencipta. Saat bertemu dengan titik buntu dalam menemukan bukti untuk memperlihatkan evolusi, apa yang mereka siapkan tidak cukup membenarkan pernyataan yang dibuat untuk transformasi utama. Francis Bacon pun akan terkejut.
Inti dari artikel ini adalah bahwa pemikiran Kristen adalah baik untuk ilmu pengetahuan. Dalam beberapa hal, orang-orang Kristen harus berhati-hati dengan filsafat Bacon. Meskipun Bacon bukan seorang Katolik maupun kaum cendekiawan, namun dia sepertinya menerima dasar pemikiran Thomas Aquinas yang menyatakan bahwa kejatuhan manusia tidak membuat akal seseorang rusak. Dia juga menulis, "Kemanusiaan kita adalah hal yang buruk kalau bukan karena keilahian yang berkuasa dalam diri kita," dan kita tahu bahwa anggapan ini dapat ditafsirkan secara ekstrim. Sepanjang dia mengatakan bahwa kita ini memiliki gambar dan rupa Allah, ini bisa diterima; tampaknya Bacon tidak sedang meragukan bahwa manusia adalah pendosa yang memerlukan Juru Selamat. Bacon bukan seorang penderita schizofrenia terhadap induksi dan otoritas. Dia melihat tidak ada percabangan dalam iman keyakinannya dan pembelaan metode ilmiah; seperti yang dikatakannya, kedalaman filsafat membawa pikiran manusia kepada keyakinan.
Walaupun Sir Francis Bacon dikenal sebagai seorang pendukung fakta dan pengkritik puisi, dia juga adalah seorang penyair. Puisi, lebih dari prosa maupun filsafat, memampukan kita untuk melihat ke kedalaman batin sang penyair. Melalui puisinya yang berjudul "Sing a New Song" (Nyanyikan Kidung Baru) kita dapat melihat bahwa Sir Francis Bacon percaya pada penciptaan dan kepada Alkitab, ia seorang yang taat kepada imannya, ia melihat tugas manusia adalah memuji Allah atas ciptaan-Nya, dan ia percaya kepada sang Raja Surgawi dan berpengharapan kepada kemenangan Kristus yang kekal. (t/Setya)
Tanggal akses: 1 Juni 2010
Kunjungi Facebook Bio-Kristi di: http://fb.sabda.org/biokristi
Diterjemahkan dan diringkas dari:
Nama artikel : Sir Francis Bacon: 1561-1626
Nama buku online : The World’S Greatest
Creation Scientists: 1000-2000
Nama situs : Creation Safaris
Penulis : David F. Coppedge
Alamat URL : http://www.creationsafaris.com
» Kategori: Karya1561 - 1626Ilmuwan
Apakah filsafat Kristen cocok untuk ilmu pengetahuan? Mungkin pertanyaan ini pernah tebersit dalam pikiran kita.
Meskipun bukan seorang ilmuwan praktis, Bacon dianggap sebagai "bapak ilmu pengetahuan modern" oleh banyak sejarawan. Filsafat dan tulisannya sangat berpengaruh dalam mengobarkan revolusi ilmu pengetahuan pada abad ke-17. Banyak kaum cendekiawan seperti Robert Boyle dan Isaac Newton menerima "filsafat baru" Bacon yang menekankan empirisme (teori yang menyatakan bahwa pengetahuan hanya dapat diperoleh dengan pengalaman langsung) dan induksi. Setelah menampik ketergantungannya pada pendapat para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles, ilmu pengetahuan baru semakin merebak ke permukaan dan memunculkan banyak sekali penemuan baru yang terus bertambah hingga kini. Namun "filsafat baru" ini sama sekali bukan hal yang baru; karena hal ini sudah ada dalam Alkitab. Sang "bapak ilmu pengetahuan modern" ini adalah seorang Kristen yang percaya kepada Alkitab dan yang menjadikan doktrin Kristen sebagai dasar pemikirannya.
John Henry, profesor ilmu sejarah dari Universitas Edinburg menulis biografi Bacon yang berjudul "Knowledge is Power: How Magic, the Government and an Apocalyptic Vision Inspired Francis Bacon to Create Modern Science." (2002) Henry menyatakan bahwa Sir Francis Bacon "menemukan ilmu pengetahuan modern" karena terinspirasi oleh ketiga hal ini: "magis" (baca: iman Kristen), "penguasa" (baca: pengetahuan untuk kebaikan manusia), dan "visi apokaliptik" (artinya, kepercayaan harfiah akan nubuatan Daniel dalam Daniel 12:4, "Banyak orang akan menyelidikinya, dan pengetahuan akan bertambah"). Buku ini memperjelas hubungan Bacon dan Alkitab.
Dalam sebuah ulasan buku ini yang ditulis 22 Agustus 2002 pada majalah Nature, Alan Stewart berkata, "Bacon begitu yakin bahwa dia hidup pada suatu masa saat pengetahuan semakin bertambah seperti yang dikatakan dalam Alkitab". Stewart melanjutkan, "Mungkin bagian yang paling menarik dari buku ini adalah bagian yang membahas tentang istilah 'magis' Bacon, yang diartikan Henry sebagai agama. Dalam buku ini dia membuat lebih banyak alasan yang meyakinkan ketimbang menelisik fondasi filsafat Bacon secara mendalam." Perlu diperhatikan, baik Stewart maupun Henry bukanlah ahli apologetika Kristen, namun keduanya mengakui bahwa Alkitab memiliki dampak langsung terhadap revolusi ilmu pengetahuan. Ibarat percikan api dalam sekring, Alkitab mengobarkan impian akan sebuah peralatan baru dalam benak Bacon, sebuah "Novum Organum", yang bisa menuntun kepada peningkatan pengetahuan, persis seperti yang disebutkan Alkitab tentang akhir zaman.
Inti filsafat Bacon adalah metode induksi: berlawanan dengan metode deduksi untuk memahami sifat alam semesta seperti yang dilakukan para ahli [sebelumnya] seperti Aristoteles dan Galen, ilmuwan harus membangun teori dari nol, mengumpulkan fakta-fakta, mengukur sesuatu, mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti pengamatan, kemudian membuat hipotesa untuk menjelaskannya. Ujilah hipotesa-hipotesa tentang fakta-fakta yang ada. Bacon yakin cara tersebut akan memberikan cara pasti untuk mendapat kebenaran daripada memercayai alasan-alasan manusia yang bisa saja keliru, dan akan muncul pada masa keemasan penemuan. Metode ilmiah yang kita pelajari di sekolah sebagian besar menganut pemikiran Bacon: mengumpulkan hasil observasi, membuat hipotesa untuk menjelaskannya, menguji hipotesa tersebut, dan menolak semua alasan-alasan yang tidak konsisten melalui observasi. Hipotesa yang cocok dengan tes empiris dapat berkembang menjadi suatu teori dan hukum.
Filsafat ilmu pengetahuan telah berubah dan semakin matang karena Bacon dan beberapa filsuf lain terus-menerus memperdebatkan apa yang benar antara ilmu pengetahuan sejati dibanding ilmu pengetahuan palsu. Idealisme Bacon tampaknya terlalu sederhana dan tidak praktis; sekarang kita menyadari perlunya teori-teori ilmiah untuk membuat prediksi dan perlunya keabsahan dalam suatu hipotesa. Syukurlah; metode Bacon sudah terlihat hasilnya: penemuan baru yang utama dalam disiplin ilmu kimia, fisika, biologi, dan astronomi, penemuan cabang-cabang ilmu pengetahuan baru, penumbangan keyakinan-keyakinan yang salah yang sudah lama dipertahankan, dan kelompok baru seperti Royal Society di Inggris.
Tetapi tidakkah penolakan para ahli melemahkan keyakinan Bacon akan otoritas Alkitab? Terkadang kaum skeptis menggambarkan para ilmuwan Kristen itu seperti para peragu sembunyi-sembunyi yang memperlihatkan kesalehan kekristenannya untuk menghindari masalah. Menurut sudut pandang ini, Bacon seolah melapisi filsafatnya dengan ayat-ayat Alkitab agar filsafatnya itu menarik bagi para rohaniwan. Namun jika memang demikian, Bacon tidak akan menulis puisi indah, yang timbul dari lubuk hatinya yang terdalam, yang meninggikan Allah dan Alkitab. John Henry sama sekali tidak mengatakan bahwa Bacon itu munafik. Dari penelitiannya, pandangan alkitabiah benar-benar menjadi dasar filsafat ilmu pengetahuan Bacon, bukan sekadar dalihnya. Yang menarik, sarjana daratan Eropa seperti Descartes dan beberapa kaum yang meragukan Alkitab lainnya tidak setuju dengan pandangan Bacon tentang metode induksi dan empirisme, namun lebih menghargai akal manusia.
Lalu, apakah itu otoritas Alkitab? Bagi Francis Bacon, Alkitab menunjukkan cara pandang terhadap Allah, dunia, dan manusia yang menerima ilmu pengetahuan sebagai mandat yang terhormat. Alam ini adalah mesin canggih yang dibuat oleh Allah, dan Allah memberi manusia kecerdasan dan tugas untuk menemukan kegunaannya. Akal manusia saja tidak cukup; akal perlu dipandu oleh doktrin Alkitab tentang natur Allah dan dunia, dan dengan penyelidikan hukum-hukum sang Pencipta. Keyakinan akan hukum-hukum alam adalah warisan Alkitab. Sir Francis percaya bahwa dalam penggenapan nubuatan Daniel, pada akhir zaman pengetahuan manusia akan bertambah-tambah dengan menggulingkan para ahli yang tidak alkitabiah seperti Aristoteles dan dengan menyelidiki penyataan umum Allah (penciptaan) dengan pikiran-pikiran yang telah diciptakan seturut gambar-Nya.
Coba perhatikan kembali dasar alkitabiah dari ketiga filsafat Bacon yang digambarkan dalam judul buku biografi Henry:
1."magis" (pilihan kata yang disayangkan), maksudnya kepercayaan beragama yang Stewart sebut "fondasi terdalam" filsafat Bacon,
2."penguasa", yaitu tanggung jawab yang Tuhan berikan kepada pemerintah untuk bertindak bagi kebaikan manusia, dan
3."visi apokaliptik," keyakinan bahwa nubuatan Daniel dapat menginspirasi kita untuk mengembangkan pengetahuan untuk kebaikan umat manusia.
Walaupun Alkitab tidak memberikan sebuah metode ilmiah, Alkitab memberikan pandangan dasar tentang Allah, manusia, dan dunia yang memungkinkan adanya perkembangan ilmiah. "Besar perbuatan-perbuatan TUHAN," kata penulis Mazmur 111:2, "layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya."
Francis Bacon bukanlah seorang skeptis sembunyi-sembunyi; baginya Alkitab merupakan kunci untuk membebaskan manusia dari pemikiran para ahli yang salah dan kitab Kejadian mendorong kita untuk melakukan tugas kita dengan sungguh-sungguh sebagai pengurus ciptaan-Nya. Termasuk mempelajari ilmu pengetahuan. Dia menganggap paham ateis sebagai paham kaum tidak terpelajar: "Filsafat yang dangkal menarik pikiran manusia ke arah ateisme," ejeknya, "namun filsafat yang dalam membawa pikiran manusia ke arah kepercayaan." (Bagi orang yang hidup pada zaman Ratu Elizabeth, agama sama artinya dengan kekristenan.) Senada dengan itu, katanya "Filsafat, jika tidak dipelajari dengan sungguh-sungguh, membangkitkan keraguan; tapi jika didalami dengan sungguh-sungguh, akan menghilangkan keraguan." Bagi Bacon, ilmu pengetahuan merupakan suatu tindakan penyembahan [kepada Allah] dan perisai terhadap kekeliruan. Dia berkata, "Ada dua kitab yang diletakkan di hadapan kita untuk dipelajari agar kita terhindar dari kesalahan: pertama, Alkitab yang menyingkapkan kehendak Allah; yang kedua adalah kitab tentang ciptaan-Nya yang menyatakan kuasa-Nya."
Orang lebih mengingat Sir Francis Bacon karena gagasan-gagasannya. Dia lahir di London tahun 1561 setelah Elizabeth I naik tahta, ketika masyarakat Inggris mengalami kemajuan yang drastis. Ia hidup sezaman dengan Galileo, Shakespeare, Sir Walter Raleigh, dan Sir Francis Drake. Bacon tidak bekerja sebagai ilmuwan tapi sebagai pengacara dan politisi, menjadi pengacara tahun 1582 dan anggota DPR Inggris tahun 1584. Dia diberi gelar ksatria [Sir] pada masa pemerintahan raja baru, James I, tahun 1603 dan kemudian menjadi Wakil Jaksa Agung, Jaksa Agung, dan menjelang 1618 menjadi Hakim Agung. Sayangnya, tahun 1621 reputasinya rusak karena kasus suap. Meskipun dia harus berjuang di hadapan raja dan parlemen, dia mengakui kesalahannya dan harus mengundurkan diri dengan rasa malu. Dia lahir ke dunia tanpa membawa apa-apa; masa mudanya sangat miskin, dan pada hari tuanya kehilangan keberuntungan dan reputasi. Dia meninggal tahun 1626 ketika melakukan percobaan pembuktian. Secara keseluruhan, hidup dan karier Bacon hampir tidak menonjol; karakter pribadinya "sama sekali tidak mengagumkan," menurut Frederic R. White. Dia tidak membuat penemuan yang signifikan dan tidak menciptakan hukum ilmiah. Akan tetapi gagasannya yang mendalam mencerminkan kedalaman dan kejeniusan pikiran.
Bacon adalah seorang filsuf urutan pertama yang memengaruhi peradaban Barat selama berabad-abad meskipun selama hidupnya ia dikritik terus-menerus oleh para filsuf lain. Dia menganggap orang-orang yang mengkritiknya itu "Orang-orang cerdas yang terkurung oleh beberapa penulis, khususnya Aristoteles, sang Diktator mereka." Daripada mengulangi ide-ide lama dengan metode deduktif, Bacon lebih mengusulkan "penyelidikan baru," misalnya, mengumpulkan bukti melalui percobaan kemudian membuat interpretasi daripada membuat deduksi natur (sifat) suatu hal dari bentuk dan prinsip universal. Ensiklopedia Britannica menjelaskan bahwa dia bukan sembarang penganut empirisme; dia percaya pada perumusan hukum dan penyamarataan; "Akan tetapi tempat abadinya dalam sejarah filsafat dunia terletak pada kebulatan tekadnya bahwa pengalaman adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan semangatnya yang besar demi sempurnanya ilmu pengetahuan alam."
Di sisi lain, seperti [Blaise] Pascal, Bacon juga memiliki bakat yang menonjol dalam hal kata-kata mutiara. Istilah yang disebut berdasarkan namanya merupakan perkataan yang sangat tepat diucapkan, seperti "buah apel emas di pinggan perak" (Amsal 25:11). Berikut ini adalah beberapa contoh kata-katanya: Pengetahuan adalah kekuasaan. Pengharapan adalah sarapan pagi yang baik tapi makan malam yang buruk. Uang itu ibarat pupuk, tidak ada gunanya kecuali jika itu disebarkan. Kebijaksanaan dalam bertutur lebih berharga daripada kemampuan berbicara yang baik.
Masih banyak lagi kutipan-kutipan yang lainnya, namun demikian kata-kata Bacon membawa visi Atlantis Baru, sebuah jalan baru bagi pengetahuan untuk disebarkan ke seluruh dunia. Sebuah buku karya Cornelius Hunter yang berjudul "Darwin’s God" menunjukkan bahwa bukti-bukti yang disodorkan oleh Darwinisme pada akhirnya hanyalah suatu metafisika belaka. Entah mereka berbicara tentang homologi, fosil atau evolusi mikro, pengamatan mereka itu insidentil; argumen yang digunakan oleh penganut Darwinisme untuk menentang penciptaan berpusat pada apa yang dikehendaki dan tidak kehendaki oleh Pencipta. Saat bertemu dengan titik buntu dalam menemukan bukti untuk memperlihatkan evolusi, apa yang mereka siapkan tidak cukup membenarkan pernyataan yang dibuat untuk transformasi utama. Francis Bacon pun akan terkejut.
Inti dari artikel ini adalah bahwa pemikiran Kristen adalah baik untuk ilmu pengetahuan. Dalam beberapa hal, orang-orang Kristen harus berhati-hati dengan filsafat Bacon. Meskipun Bacon bukan seorang Katolik maupun kaum cendekiawan, namun dia sepertinya menerima dasar pemikiran Thomas Aquinas yang menyatakan bahwa kejatuhan manusia tidak membuat akal seseorang rusak. Dia juga menulis, "Kemanusiaan kita adalah hal yang buruk kalau bukan karena keilahian yang berkuasa dalam diri kita," dan kita tahu bahwa anggapan ini dapat ditafsirkan secara ekstrim. Sepanjang dia mengatakan bahwa kita ini memiliki gambar dan rupa Allah, ini bisa diterima; tampaknya Bacon tidak sedang meragukan bahwa manusia adalah pendosa yang memerlukan Juru Selamat. Bacon bukan seorang penderita schizofrenia terhadap induksi dan otoritas. Dia melihat tidak ada percabangan dalam iman keyakinannya dan pembelaan metode ilmiah; seperti yang dikatakannya, kedalaman filsafat membawa pikiran manusia kepada keyakinan.
Walaupun Sir Francis Bacon dikenal sebagai seorang pendukung fakta dan pengkritik puisi, dia juga adalah seorang penyair. Puisi, lebih dari prosa maupun filsafat, memampukan kita untuk melihat ke kedalaman batin sang penyair. Melalui puisinya yang berjudul "Sing a New Song" (Nyanyikan Kidung Baru) kita dapat melihat bahwa Sir Francis Bacon percaya pada penciptaan dan kepada Alkitab, ia seorang yang taat kepada imannya, ia melihat tugas manusia adalah memuji Allah atas ciptaan-Nya, dan ia percaya kepada sang Raja Surgawi dan berpengharapan kepada kemenangan Kristus yang kekal. (t/Setya)
Tanggal akses: 1 Juni 2010
Kunjungi Facebook Bio-Kristi di: http://fb.sabda.org/biokristi
Diterjemahkan dan diringkas dari:
Nama artikel : Sir Francis Bacon: 1561-1626
Nama buku online : The World’S Greatest
Creation Scientists: 1000-2000
Nama situs : Creation Safaris
Penulis : David F. Coppedge
Alamat URL : http://www.creationsafaris.com
Archive for the ‘FILSAFAT MANUSIA’ Category
JENIS-JENIS HOMO
1 June 2009
Merenung tentang manusia, sungguh mengasyikkan. Polahnya lucu, menggemaskan, taat, usil, menjengkelkan, nakal, khusyuk, iseng, dan terkadang susah dipahami alias absurd: tidak masuk akal. Ada tetangga saya yang sehari-hari hanya disibukkan untuk duduk-duduk di pos ronda, bermain domino hingga waktu melayang.
Lain lagi dengan sebagian kalangan yang sibuk. Menurut mereka waktu adalah uang. Menghargai waktu karena di dalam waktu terjadi transaksi-transaksi dan akhirnya mendapatkan uang. Bagi kalangan pengangguran seperti tetangga saya ini waktu juga wajib dihabiskan. Caranya ya itu tadi, bermain domino, ngobrol ngalur ngidul hingga waktu habis. Hari pun habis. Usia habis.
Siapakah manusia sehingga mereka bisa dengan ringan bermain main di dalam sang waktu? Benarkah hanya manusia yang sadar dan mempertanyakan tentang makna sebuah aktivitas di dalam waktu?
Binatang, tumbuhan, dan sebutir pasir tetap hidup di dalam waktu dan berubah seiring dengan waktu. Binatang mengalami dengan instingnya, kapan musim kawin tiba. Tumbuhan juga begitu, dia akan berubah seiring dengan pergantian musim. Kapan saatnya dia harus menghijaukan daunnya, kapan pula menggantinya dengan warna kuning dan menggugurkannya. Namun binatang dan tumbuhan tidak MENGERTI. Mereka hanya MENGALAMI berdasarkan naluri, kebiasaan dan kodrat-nya.
Hanya manusia yang diberi kesadaran, berpikir, merasa dan merenungkan kejadian-kejadian dalam waktu. Hanya manusia yang mampu mengambil jarak terhadap dirinya sendiri. Namun siapakah manusia sesungguhnya sehingga memiliki kehebatan untuk mentransendensi dirinya, menata nilai-nilai, memiliki keyakinan tertentu, membangun peradaban dan menata kebudayaannya?
Menurut filsafat manusia, ada banyak tesis tentang manusia, bahwa manusia itu HOMO MECHANICUS, HOMO ERECTUS, HOMO LUDENS. Kesemuanya itu terutama mengenai susunan kodrat kejasmaniannya. Tesis lanjutannya adalah HOMO FABER, HOMO SAPIENS, ANIMAL RATIONALE, ANIMAL SYMBOLICUM yaitu manusia yang memiliki daya cipta yang merupakan susunan kodrat kejiwaan. Selanjutnya, manusia sebagai HOMO RECENTIS dan HOMO VOLENS yaitu manusia yang memiliki aspek rasa dan karsa. Tesis-tesis KEJIWAAN itu menyatu sebagai HOMO MENSURA: Makhluk penilai. HOMO MENSURA dan HOMO FABER menyatu sebagai HOMO EDUCANDUM.
Selain susunan kodrat KEJASMANIAN dan KEJIWAAN, manusia juga sebagai makhluk sosial. Tesis mengenai hal itu adalah HOMO ECONOMICUS dan HOMO SOCIUS.
Akhirnya masih ada beberapa konsep lainnya yaitu HOMO VIATOR dan HOMO RELIGIOSUS yang berhubungan dengan kedudukan kodrat manusia sebagai MAKHLUK TUHAN dan pribadi yang mandiri. Kesemua tesis yang homo-homo tersebut menyatu sebagai HOMO CONCORS yaitu manusia yang siap untuk mengubah diri/TRANSFORMASI DIRI dan adaptif terhadap perubahan.
Singkat perenungan, berpikir tentang HOMO CONCORS saya ingat tetangga saya yang setiap hari nongkrong di pos ronda untuk menghabiskan detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari untuk bermain domino tadi. Dia adalah HOMO CONCORS, manusia yang siap untuk mengubah diri, tentu saja menjadi lebih baik.
1 June 2009
Merenung tentang manusia, sungguh mengasyikkan. Polahnya lucu, menggemaskan, taat, usil, menjengkelkan, nakal, khusyuk, iseng, dan terkadang susah dipahami alias absurd: tidak masuk akal. Ada tetangga saya yang sehari-hari hanya disibukkan untuk duduk-duduk di pos ronda, bermain domino hingga waktu melayang.
Lain lagi dengan sebagian kalangan yang sibuk. Menurut mereka waktu adalah uang. Menghargai waktu karena di dalam waktu terjadi transaksi-transaksi dan akhirnya mendapatkan uang. Bagi kalangan pengangguran seperti tetangga saya ini waktu juga wajib dihabiskan. Caranya ya itu tadi, bermain domino, ngobrol ngalur ngidul hingga waktu habis. Hari pun habis. Usia habis.
Siapakah manusia sehingga mereka bisa dengan ringan bermain main di dalam sang waktu? Benarkah hanya manusia yang sadar dan mempertanyakan tentang makna sebuah aktivitas di dalam waktu?
Binatang, tumbuhan, dan sebutir pasir tetap hidup di dalam waktu dan berubah seiring dengan waktu. Binatang mengalami dengan instingnya, kapan musim kawin tiba. Tumbuhan juga begitu, dia akan berubah seiring dengan pergantian musim. Kapan saatnya dia harus menghijaukan daunnya, kapan pula menggantinya dengan warna kuning dan menggugurkannya. Namun binatang dan tumbuhan tidak MENGERTI. Mereka hanya MENGALAMI berdasarkan naluri, kebiasaan dan kodrat-nya.
Hanya manusia yang diberi kesadaran, berpikir, merasa dan merenungkan kejadian-kejadian dalam waktu. Hanya manusia yang mampu mengambil jarak terhadap dirinya sendiri. Namun siapakah manusia sesungguhnya sehingga memiliki kehebatan untuk mentransendensi dirinya, menata nilai-nilai, memiliki keyakinan tertentu, membangun peradaban dan menata kebudayaannya?
Menurut filsafat manusia, ada banyak tesis tentang manusia, bahwa manusia itu HOMO MECHANICUS, HOMO ERECTUS, HOMO LUDENS. Kesemuanya itu terutama mengenai susunan kodrat kejasmaniannya. Tesis lanjutannya adalah HOMO FABER, HOMO SAPIENS, ANIMAL RATIONALE, ANIMAL SYMBOLICUM yaitu manusia yang memiliki daya cipta yang merupakan susunan kodrat kejiwaan. Selanjutnya, manusia sebagai HOMO RECENTIS dan HOMO VOLENS yaitu manusia yang memiliki aspek rasa dan karsa. Tesis-tesis KEJIWAAN itu menyatu sebagai HOMO MENSURA: Makhluk penilai. HOMO MENSURA dan HOMO FABER menyatu sebagai HOMO EDUCANDUM.
Selain susunan kodrat KEJASMANIAN dan KEJIWAAN, manusia juga sebagai makhluk sosial. Tesis mengenai hal itu adalah HOMO ECONOMICUS dan HOMO SOCIUS.
Akhirnya masih ada beberapa konsep lainnya yaitu HOMO VIATOR dan HOMO RELIGIOSUS yang berhubungan dengan kedudukan kodrat manusia sebagai MAKHLUK TUHAN dan pribadi yang mandiri. Kesemua tesis yang homo-homo tersebut menyatu sebagai HOMO CONCORS yaitu manusia yang siap untuk mengubah diri/TRANSFORMASI DIRI dan adaptif terhadap perubahan.
Singkat perenungan, berpikir tentang HOMO CONCORS saya ingat tetangga saya yang setiap hari nongkrong di pos ronda untuk menghabiskan detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, hari demi hari untuk bermain domino tadi. Dia adalah HOMO CONCORS, manusia yang siap untuk mengubah diri, tentu saja menjadi lebih baik.
Filsafat Metafisika Immanuel Kant
Para filosof sebelum Kant mencoba menjelaskan segala prinsip mendasar dibalik sebuah realitas. Mereka ingin memetahkan realitas orisinil, mutlak dan paling fundamental dibalik semua penampakkan. Segala realitas mendasar dan fundamental dari segala yang ada mulai disibakkan oleh akal budi manusia. Adalah merupakan usaha para filosof ini yang menampik semua deskripsi mitos tentang realitas. Pada titik paling radikal, para filosof ini menjelaskan prinsip pertama yang mengawali dan mendasari segala realitas. Kita bias mengambil contoh misalnya yang secara historis dimulai dari Melitos, Asia Kecil pada abad ke-6 SM, Thales mendeskripsikan air sebagai prinsip pertama Anaximandros mengedepankan to aperion (yang tidak terbatas) dan Anaximenes memproklamirkan udara sebagai prinsip utama. Kemudian Parminides, yang ada adalah ada, di luar ada tidak ada, plato, yang ada itu universal, formal, ideal, dan yang paling penting adalah Aristoteles yang merefleksikan realitas ada secara mendasar dan menyeluruh. Lalau Leibniz menggagas tentng monade sebagi prinsip pertama.
Para filosof yang disebutkan di atas memprioritaskan cara kerja nalar atau akal budi; manusia yang berpikir untuk menjawab dan menguak segala hal mendasar, esensial dari segala penampakan realitas. Para pemikir metafisis seperti Plato dan Aristoteles menelurkan asumsi dasar bahwa dunia atau realitas adalah yang dapat dipahami (intelligible) yang mana setiap aliran metafisika mengklaim bahwa akal budi memiliki kapasitas memadai untuk memahami dunia. Seolah-olah akal budi memiliki kualitas “ampuh” untuk menyibak semua realitas mendasar dari segala yang ada.
Immanuel Kant berpikir lain. Pada Kant metafisika dipahami sebagai suatu ilmu tentang batas-batas rasionalitas manusia. Metafisika tidak lagi hendak menyibak dan mengupas prinsip mendasar segala yang ada tetapi metafisika hendak pertama-tama menyelidiki manusia (human faculties) sebagai subjek pengetahuan. Disiplin metafisika selama ini yang mengandaikan adanya korespondensi pikiran dan realitas hingga menafikkan keterbatasan realitas manusia pada akhirnya direvolusi total oleh Kant. Dalam diri manusia, menurut Kant, ada fakultas yang berperan dalam menghasilkan pengetahuan yaitu sensibilitas yang berperan dalam menerima berbagai kesan inderawai yang tertata dalam ruang dan waktu dan understanding yang memiliki kategori-kategori yang mengatur dan menyatukan kesan-kesan inderawi menjadi pengetahuan.
Para filosof sebelum Knat hendak menyibak das ding an sich realitas dalam dirinya atau neumenom oleh rasionalitas manusia, sedangkan pada Kant, hakikat realitas itu sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh diketahui (misalnya Tuhan itu sesungguhnya apa? Dunia itu apa?). yang diketahui adalah gejalahnya, fenomenanya (relitas sebagaimana penampakkannya), sejauh saya melihatnya (das ding fur mich). Di sini Kant tidak melegitimasi kemampuan akal budi manusia memahami esensi sebuah realitas tetapi memahami bahwa akal budi manusia terbatas dalam memeperoleh pengetahuan dibalik segala penampakan.
Yang hendak ditelusuri dan dibahas dalam skripsi saya adalah metafisika gnoseologi Immanuel Kant. Pokok pikiran utama yang hendak ditampilkan adalah sebuah revolusi metafisis yang diprakarsai oleh Kant. Dengan demikian uraian yang akan saya jelaskan nanti dalam skripsi berawal dari penjelasan tentang keberadaan metafisika gnoseologi dalam panorama filosofis sejak munculnya para filosof awali kemudian dilanjutkan dengan perkembangannya pada abad pertengahan, abad modern yang tentu diprakarsai oleh Descartes dan puncaknya adalah revolusi pemikiran oleh Kant. Oleh karena itu uraian yang akan saya berikan dalam skripsi berupa, yang utama, penjelasan tentang pemikiran Kant yang melihat pengetahuan itu bukan pertama-tama bagaimana subjek itu memahami objek (subjek yang terarah pada objek/realitas) tetapi memfokuskan diri pada bagaimana cara benak kita memahami objek sejauh cara tersebut bersifat apriori. Maka menurut saya adalah sangat penting untuk pertama-tama menjelaskan bagaimana cara kerja akal budi manusia sehingga bisa menentukan segala pengenalan dan pengetahuan tentang segala realitas yang ada.
Revolusi Kopernikan
Filsafat sebelum Kant memiliki proses berpikir yang mana subjek harus mengarahkan diri pada objek (dunia, benda-benda). Kehadiran Kant membawa sebuah evolusi besar dalam cara berpikir metafisis, karena menurutnya, bukan subjek yang mengarahkan diri pada objek, tetapi sebaliknya. Yang mendasar dari pemikiran Kant ini adalah ia tidak memulai dari objek-objek tetapi dari subjek. Objek-obejk itu yang harus “menyesuaikan” diri dengan subjek. Dengan demikian menurut filsafat Kant, realitas itu ada dalam akal budi manusia. Inilah yang disebut sebagai revolusi Kopernikan, artinya sebuah perubahan cara berpikir semendasar Kopernikus yang mengubah pandangan dari geosentris menuju heliosentris.
Selanjutnya filsafat Kant ini disebut sebagai filsafat transendental (transcendental Philosophy). Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).
Dengan demikian metafisika gnoseologi Kant ini merupakan sebuah upaya untuk mereduksi realitas kongkrit (inderawi) pada realitas di dalam akal budi. Bahwa akal budi manusia mempunyai struktur-struktur pengetahuan mengenai segala apa yang ada.
Dalam pandangan Kant, objek itu nampak hanya dalam kategori subjek, jadi tidak ada cara lain kecuali mengetahuinya dengan struktur kategori akal budi manusia. Sebenarnya pemikiran Kant ini berangkat dari pemahamanya tentang hakikat realitas atau neumena itu tidak pernah diketahui , yang kita ketahui itu gejalahnya. Sejauh objek itu saya lihat lantas segala yang dilihat itu masuk dalam akal budi menjadi pengetahuan.
Proses Pengetahuan.
Kant menolak klaim metafisika atas pengetahuan tentang realitas fundamental (das ding an sich). Oleh karena ketika kita berhadapan dengan realitas kita selalau mengalami realitas itu dalam kategori-kategori yang sudah tertanam dalam benak kita. Jadi pengetahuan dan pengenalan tentang segala yang ada itu ditentukan oleh hukum-hukum atau prinsip-prinsip pengetahuan yang secara konstitutif ada dalam akal budi mansusia.
Untuk lebih jelasnya, saya akan membuat kerangka proses pengetahuan manusia menurut Kant.
Rasio (vernuft)
Kerangka di atas adalah skema tentang proses pengetahuan dari Immanuel Kant. Kerangka pengetahuan ini hendak menjelaskan bahwa Kant berpikir bukan melalui objek-objek tetapi subjek. Kant hendak menyelidiki struktur pengetahuan subjek sendiri yang membentuk pengetahuan tentang segala yang ada. Dengan cara ini Kant sekaligus suddah menunjukkan apa sesungguhnya yang menjadi sumber dan struktur pengetahuan manusia. Pengetahuan itu bersandar pada pengalaman inderawi dan bergerak dalam wilayah kenyataan yang bisa dialami manusia. Dan pengetahuan itu invalid bila bergerak di laur kenyataan yang bis adialami manusia. Itulah sebabnya maka Kant menolak metafisika-metafisika sebelumnya yang mengganggap realitas das ding an sich bisa dicerna oleh rasionalitas manusia.
at 01:39
Para filosof yang disebutkan di atas memprioritaskan cara kerja nalar atau akal budi; manusia yang berpikir untuk menjawab dan menguak segala hal mendasar, esensial dari segala penampakan realitas. Para pemikir metafisis seperti Plato dan Aristoteles menelurkan asumsi dasar bahwa dunia atau realitas adalah yang dapat dipahami (intelligible) yang mana setiap aliran metafisika mengklaim bahwa akal budi memiliki kapasitas memadai untuk memahami dunia. Seolah-olah akal budi memiliki kualitas “ampuh” untuk menyibak semua realitas mendasar dari segala yang ada.
Immanuel Kant berpikir lain. Pada Kant metafisika dipahami sebagai suatu ilmu tentang batas-batas rasionalitas manusia. Metafisika tidak lagi hendak menyibak dan mengupas prinsip mendasar segala yang ada tetapi metafisika hendak pertama-tama menyelidiki manusia (human faculties) sebagai subjek pengetahuan. Disiplin metafisika selama ini yang mengandaikan adanya korespondensi pikiran dan realitas hingga menafikkan keterbatasan realitas manusia pada akhirnya direvolusi total oleh Kant. Dalam diri manusia, menurut Kant, ada fakultas yang berperan dalam menghasilkan pengetahuan yaitu sensibilitas yang berperan dalam menerima berbagai kesan inderawai yang tertata dalam ruang dan waktu dan understanding yang memiliki kategori-kategori yang mengatur dan menyatukan kesan-kesan inderawi menjadi pengetahuan.
Para filosof sebelum Knat hendak menyibak das ding an sich realitas dalam dirinya atau neumenom oleh rasionalitas manusia, sedangkan pada Kant, hakikat realitas itu sebenarnya tidak pernah sungguh-sungguh diketahui (misalnya Tuhan itu sesungguhnya apa? Dunia itu apa?). yang diketahui adalah gejalahnya, fenomenanya (relitas sebagaimana penampakkannya), sejauh saya melihatnya (das ding fur mich). Di sini Kant tidak melegitimasi kemampuan akal budi manusia memahami esensi sebuah realitas tetapi memahami bahwa akal budi manusia terbatas dalam memeperoleh pengetahuan dibalik segala penampakan.
Yang hendak ditelusuri dan dibahas dalam skripsi saya adalah metafisika gnoseologi Immanuel Kant. Pokok pikiran utama yang hendak ditampilkan adalah sebuah revolusi metafisis yang diprakarsai oleh Kant. Dengan demikian uraian yang akan saya jelaskan nanti dalam skripsi berawal dari penjelasan tentang keberadaan metafisika gnoseologi dalam panorama filosofis sejak munculnya para filosof awali kemudian dilanjutkan dengan perkembangannya pada abad pertengahan, abad modern yang tentu diprakarsai oleh Descartes dan puncaknya adalah revolusi pemikiran oleh Kant. Oleh karena itu uraian yang akan saya berikan dalam skripsi berupa, yang utama, penjelasan tentang pemikiran Kant yang melihat pengetahuan itu bukan pertama-tama bagaimana subjek itu memahami objek (subjek yang terarah pada objek/realitas) tetapi memfokuskan diri pada bagaimana cara benak kita memahami objek sejauh cara tersebut bersifat apriori. Maka menurut saya adalah sangat penting untuk pertama-tama menjelaskan bagaimana cara kerja akal budi manusia sehingga bisa menentukan segala pengenalan dan pengetahuan tentang segala realitas yang ada.
Revolusi Kopernikan
Filsafat sebelum Kant memiliki proses berpikir yang mana subjek harus mengarahkan diri pada objek (dunia, benda-benda). Kehadiran Kant membawa sebuah evolusi besar dalam cara berpikir metafisis, karena menurutnya, bukan subjek yang mengarahkan diri pada objek, tetapi sebaliknya. Yang mendasar dari pemikiran Kant ini adalah ia tidak memulai dari objek-objek tetapi dari subjek. Objek-obejk itu yang harus “menyesuaikan” diri dengan subjek. Dengan demikian menurut filsafat Kant, realitas itu ada dalam akal budi manusia. Inilah yang disebut sebagai revolusi Kopernikan, artinya sebuah perubahan cara berpikir semendasar Kopernikus yang mengubah pandangan dari geosentris menuju heliosentris.
Selanjutnya filsafat Kant ini disebut sebagai filsafat transendental (transcendental Philosophy). Filsafat transendental adalah filsafat yang berurusan bukan untuk mengetahui objek pengalaman melainkan bagaimana subjek (manusia) bisa mengalami dan mengetahui sesuatu. Filsafat transendental itu tidak memusatkan diri dengan urusan mengetahui dan mengumpulkan realitas kongkrit seperti misalnya pengetahuan tentang anatomi tubuh binatang, geografis, dll, melainkan berurusan dengan mengetahui hukum-hukum yang mengatur pengalaman dan pemikiran manusia tentang anatomi tubuh binatang, dll. Hukum-hukum itu oleh Kant disebut hukum apriori (hukum yang dikonstruksi akal budi manusia) dan bukan hukum yang berdasarkan pengetahuan inderawi (aposteriori).
Dengan demikian metafisika gnoseologi Kant ini merupakan sebuah upaya untuk mereduksi realitas kongkrit (inderawi) pada realitas di dalam akal budi. Bahwa akal budi manusia mempunyai struktur-struktur pengetahuan mengenai segala apa yang ada.
Dalam pandangan Kant, objek itu nampak hanya dalam kategori subjek, jadi tidak ada cara lain kecuali mengetahuinya dengan struktur kategori akal budi manusia. Sebenarnya pemikiran Kant ini berangkat dari pemahamanya tentang hakikat realitas atau neumena itu tidak pernah diketahui , yang kita ketahui itu gejalahnya. Sejauh objek itu saya lihat lantas segala yang dilihat itu masuk dalam akal budi menjadi pengetahuan.
Proses Pengetahuan.
Kant menolak klaim metafisika atas pengetahuan tentang realitas fundamental (das ding an sich). Oleh karena ketika kita berhadapan dengan realitas kita selalau mengalami realitas itu dalam kategori-kategori yang sudah tertanam dalam benak kita. Jadi pengetahuan dan pengenalan tentang segala yang ada itu ditentukan oleh hukum-hukum atau prinsip-prinsip pengetahuan yang secara konstitutif ada dalam akal budi mansusia.
Untuk lebih jelasnya, saya akan membuat kerangka proses pengetahuan manusia menurut Kant.
Rasio (vernuft)
Kerangka di atas adalah skema tentang proses pengetahuan dari Immanuel Kant. Kerangka pengetahuan ini hendak menjelaskan bahwa Kant berpikir bukan melalui objek-objek tetapi subjek. Kant hendak menyelidiki struktur pengetahuan subjek sendiri yang membentuk pengetahuan tentang segala yang ada. Dengan cara ini Kant sekaligus suddah menunjukkan apa sesungguhnya yang menjadi sumber dan struktur pengetahuan manusia. Pengetahuan itu bersandar pada pengalaman inderawi dan bergerak dalam wilayah kenyataan yang bisa dialami manusia. Dan pengetahuan itu invalid bila bergerak di laur kenyataan yang bis adialami manusia. Itulah sebabnya maka Kant menolak metafisika-metafisika sebelumnya yang mengganggap realitas das ding an sich bisa dicerna oleh rasionalitas manusia.
at 01:39
Langganan:
Postingan (Atom)