by.fidel
Dalam jaman yang kaya dengan pelbagai tawaran dan godaan seperti sekarang ini, aktifitas menabung terkadang menjadi kebutuhan yang terlewati dan terasa kurang bermanfaat. Hal ini terjadi karena sebagian besar manusia memang sedang terbuai dalam “modern life style” (gaya hidup modern) yang sering diasosiasikan dengan kecenderungan untuk selalu mengkonsumsi dan mengoleksi apa saja termasuk yang bukan dari dorongan kebutuhan pokoknya. Lantas kebiasaan menabung menjadi aktifitas yang di-nomordua-kan ketimbang menuruti arus jaman dan pertarungan gengsi. Akibatnya adalah terjadi kegoncangan hidup di masa yang akan datang terutama yang berhubungan dengan menejemen kehidupan ekonomi entah itu secara individu maupun secara sosial.
Menanggapi fenomena hidup seperti sekarang ini, bagi pribadi yang ingin hidupnya bahagia di kemudian hari tentu dapat mengantisipasinya dengan mulai menabung. Akan tetapi aktifitas ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Di satu pihak masing-masing orang harus bergelut dengan kecendrungan gaya hidup konsumtif yang tidak lain adalah produk jaman ini. Di pihak yang lain ia harus mampu menekan kekuatan “moneyflow” (pengeluaran uang) yang harus selaras dengan penghasilan dan kebutuhan pokok hidupnya.
Memaknai “Kotak Celengan”
Pada artikel ini, penulis ingin secara khusus membahas tentang sebuah media yang menjadi alat bantu bagi kita yang ingin menabung. Alat Bantu itu sudah kita kenal dengan nama “Kotak Celengan”. Penulis menganggap alat ini menjadi cikal-bakal bagi pembiasaan dan aktifitas menabung yang mengarah pada model tabungan yang lebih konvensional.
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, istilah “Celengan” diartikan sebagai tabung/kotak tempat menyimpan uang. Dalam praktek sehari-hari, peran kotak celengan lebih sebagai tempat singgahnya uang recehan atau pecahan seribuan sisa belanja atau pelipur lara bagi anak-anak yang lagi merengek. Kotak inipun lebih akrab bagi dunia anak-anak dibanding orang dewasa. Namun kenyataan ini sebenarnya juga menciptakan sebuah atmosfir yang positif terutama bagi anak-anak, karena mereka mempunyai jangkaun masa depan yang lebih luas serta melewati proses menabung yang relatif lebih panjang. Dalam usia anak-anak, mengakrabkan diri dengan kotak celengan bisa berarti memulai sebuah aktifitas menabung.
Sebelum penulis mulai menyusuri lebih jauh pemahaman tentang istilah “Kotak Celengan”, perlu diketahui pula tentang maksud pemakaian istilah ini. Pemakaian istilah “Kotak Celengan” sebenarnya bisa menjadi sebuah istilah teknis yang bisa mewakili beberapa media lain yang dipakai dengan fungsi yang sama yakni tempat menyimpan uang selain lembaga perbankan. Pada kenyataannya, kotak celengan hanyalah salah satu media yang memudahkan dan memabntu setiap orang untuk menyimpan uangnya.
Penulis mencoba mengangkat makna yang lebih dalam dari sebuah “kotak celengan”. Bila dipahami secara sungguh-sungguh, “kotak celengan” sebenarnya mempunyai makna sebagai berikut: Pertama, arti yang paling umum seperti sudah disinggung diatas adalah sebagai tempat menyimpan uang. Pada tingkat pemahaman ini, orang lebih mengartikannya sebagai kotak menampung uang sisa hasil belanja yang mungkin terdiri dari pecahan yang sudah tidak populer lagi di mata pasar modern. Sehingga kebanyakan orang hanya memandang sepele tentang pentingnya kotak celengan yang seharusnya berada di dalam kamar rumah mereka atau dimiliki oleh anak-anak mereka. Sebagai akibatnya adalah berkurangnya pemberdayaan “Kotak Celengan” yang berlanjut pada “kerdilnya” kebiasaan untuk menabung.
Kedua, “Kotak Celengan” menjadi wadah di mana terbersitnya keinginan, dorongan dan hasrat untuk menabung. Ada sebuah potensi atau daya yang menggerakan yang ada di balik sebuah kotak celengan. Daya itu akan selalu terasa bila kita terus mengakrabkan diri dengannya. Bagi pemula (terutama kalangan anak-anak), langkah awal yang diambil adalah perlu diberi informasi yang cukup tentang makna umum dan manfaat dari kotak ini. Ketika mereka sudah mengetahui dan memulai menabung, maka potensi sebuah kotak celengan akan menggerakkan hati mereka setiap kali mereka bersua dengan kotak ini. Daya geraknya akan lebih terasa bila aktifitas menyimpan uang dilakukan secara konstan.
Ketiga, “Kotak Celengan” menjadi perangsang bagi tergeraknya aktifitas menabung. Pada tingkat pemahaman ini, “Kotak Celengan” menjadi pemicu bagi setiap orang yang sudah mengenal dan mengetahui makna globalnya akan tetapi belum memulai menabung. Bagi mereka yang sudah membiasakan diri dengan aktifitas menabung, kebanyakan mereka telah memulai dengan pola: “berawal dari sebuah media/cara sederhana seperti kotak celengan atau apapun bentuknya sampai pada tingkat mengivestasikan atau mendepositokan penghasilan mereka”.
Membangun Kebiasaan Menabung
Dalam bukunya yang berjudul: Master Your Mind Design Your Destiny, Adam Khoo mengatakan bahwa untuk menciptakan sebuah kebiasaan baru kita perlu memulai dengan sebuah perilaku yang baru. Perilaku baru itu harus dikondisikan sedemikian rupa serta dijaga konsistensinya agar menghasilkan apa yang kita kehendaki.
Pada dasarnya, semua aktifitas yang sudah menjadi “habbit” (kebiasaan) selalu berawal dari pengambilan sikap untuk “memulai” menciptakan prilaku yang baru. Begitu pula dengan aktifitas menabung. Bagi orang yang ingin sukses dengan menabung, maka perlu menciptakan perilaku menabung sehingga aktifitas menabung menjadi “kebiasaan”. Hal itu berarti bahwa aktifitas menabung tidak sekedar aksi menyimpan uang bilamana perlu, tetapi menjadi sebuah rutinitas yang terangkai dari sebuah proses yang berkelanjutan.
Untuk menjadikan aktifitas menabung sebagai sebuah kebiasaan, maka langkah awal yang sangat krusial adalah membuat keputusan untuk memulai. Langkah awal ini tidaklah mudah karena menjadi kelemahan sebagian besar orang dalam membangun sebuah kebiasaan adalah bagaimana “memulai” kebiasaan itu. Hal ini lebih terasa pada kalangan dewasa yang memang terobsesi dengan banyak cita-cita dan harapan di masa yang akan datang.
Lain halnya dengan kelompok anak-anak. Mereka belum dewasa dalam berpikir karena wawasan yang lebih sempit tentang menabung. Oleh karena itu mereka membutuhkan pendampingan pihak lain seperti orang tua yang harus mampu mengajarkan mereka tentang bagaimana mulai menabung. Pihak lain juga, terutama orang tua harus bisa menciptakan kondisi yang memungkinkan serta bisa memberi arahan yang tepat tentang bagaimana anak menghadapi masa depannya.
Proses pembiasaan menabung bagi anak-anak dapat dilakukan dengan bebarapa tahap. Tahap Pertama. Penulis menyebutnya tahap “konseptualisasi”. Dalam tahap ini anak-anak perlu ditanamkan konsep yang benar tentang arti menabung serta manfaatnya di masa yang akan datang bagi dirinya sendiri. Menabung adalah aktifitas menyimpan atau menyisihkan penghasilan (berupa uang) untuk kebutuhan hidup di masa yang akan datang. Dengan menabung sejak dini kita bisa merancang masa depan seperti yang kita cita-citakan.
Tahap kedua. Tahap ini disebut tahap “per-contoh-an”. Anak-anak diberikan contoh lewat praktek menabung dari orang tua sendiri atau melalui model percontohan orang-orang yang sukses secara ekonomi dengan menabung di usia dini. Model ini akan lebih efektif bila model percontohan itu diambil dari tokoh atau figur yang sudah mereka kenal. Pada dasarnya anak-anak suka mengidolakan seorang tokoh karena kehebatan/keberhasilan dalam hal tertentu sehingga model inipun lebih menyapa kejiwaan mereka.
Tahap ketiga. Tahap ini dirasakan penulis sebagai tahap yang sangat penting. Penulis menyebutnya sebagai tahap “mediasi”. Pada tahap ini anak-anak perlu disediakan sebuah media yang berguna sebagai pemberi stimulus serta kemudahan untuk memulai aktifitas menabung. Seperti diutarakan di atas, media yang paling memungkinkan adalah “tabung celengan”. Tabung/kotak ini memberikan banyak kemudahan seperti mudah diperoleh, mudah dipakai dan mudah disimpan. Selain itu secara fisik, penampilan dari tabung ini sangat digemari anak-anak karena bentuknya yang lucu dan bervariasi.
Penampilan fisik kotak celengan memang cenderung membuat anak merasa tertarik untuk memiliki bahkan merasa ‘menyayangi’. Sehingga pemanfaatan kotak tersebut juga lebih terdorong oleh faktor kesukaan karena modelnya yang unik. Rasa sayang pada kotak tersebut bisa membuka peluang bagi orang tua untuk mengarahkan anak agar mengungkapkan kecintaannya dengan cara memberi “makan” (berupa uang)/meyimpan uang. Tentunya langkah ini sangat sederhana akan tetapi cukup efisien bagi tumbuhnya kebiasaan menabung dalam diri anak. Sesuai dengan tahap perkembangan dan pemahaman yang sederhana, anak-anak harus mulai dengan hal yang sederhana dan menyenangkan. Dari hal yang sederhana dan menyenangkan ini akan bisa tumbuh sebuah kebiasaan.
Menghadapi Halangan Untuk Memulai Menabung
Persoalan terbesar bagi kebanyakan orang yang ingin membangun sebuah kebiasaan adalah bagaimana harus memulainya. Begitu sulit orang memulai mengerjakan atau mengambil inisiatif untuk mulai sehingga begitu banyak kesempatan terlewatkan begitu saja. Keraguan atau keengganan untuk mulai beraksi selalu menggerogoti inisitisiatif diri karena pikirannya dikuasai oleh kecurigaan akan kegagalan dan hasil yang tidak optimal.
Sehubungan dengan kiat membangun kebiasaan untuk menabung, ada satu cara yang cukup menggerakkan hati yang dapat ditempuh agar kita dapat melewati halangan tersebut. Cara yang dimaksud adalah men-“support” diri sendiri untuk mencintai diri dan masa depan sendiri dalam bentuk menyisihkan sebagian penghasilan untuk dirinya sendiri (mengutip M.Icksan, seorang perencana keuangan dari Primaplaner). Seberapa besar cinta kita pada diri kita sendiri dan masa depan kita apabila sebagian besar nominal penghasilan kita harus kita serahkan kepada para penjual barang dan jasa. Kita akan lebih mudah memikirkan bagaimana membayar pinjaman, rekening listrik dan air atau kebutuhan sesaat. Sedangkan kita sendiri tidak atau belum mau “membeli” dan menghargai diri kita dengan cara menyisihkan terlebih dahulu sedikit penghasilan kita untuk masa depan kita. Walaupun demikian bukan berarti kita menghindari kewajiban kita terhadap segala tuntutan serta kebutuhan yang aktual di masa sekarang. Akan tetapi menyisihkan sedikit dari penghasilan kita dalam bentuk menabung akan menjadi ekspresi dari kecintaan kita pada diri dan masa depan kita.
Dari Kebiasaan Menabung Menuju Masa Depan
Kebiasaan menabung menjadi modal yang sangat berharga bagi kehidupan kita terutama anak-anak kelak. Dengan kebiasaan yang sudah tumbuh dan terpupuk dalam diri anak, maka mereka akan lebih mudah mengarungi masa depan mereka sendiri. Hal itu terjadi karena mereka sudah mulai dan membiasakan diri untuk merancang masa depannya sejak dini. Dari segi finansial, mereka akan lebih mudah me-“manage” penghasilan yang mereka peroleh kelak. Dengan demikian kehidupan ekonomi mereka juga akan sangat terbantu dan terdongkrak pada level yang lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar