Selasa, 01 Juni 2010

FENOMENA TUKUL ARWANA DI TENGAH KEGALAUAN HATI

Kecemasan melanda warga negeri ini lantaran bencana yang tiada henti. Sementara sebagian besar masyarakat terperangkap dalam kegalauan, Tukul Arwana tampil bak Malaikat Penghibur yang menghadirkan pesona dan keceriaan.

Sosok Tukul Arwana tiba-tiba mencuat lewat program Empat Mata yang ditayangkan Stasiun Televisi Trans7 setiap jam 21.30 sampai jam 23.00 WIB. Betapa tidak, tampilan kocaknya telah menghadirkan keceriaan bagi masyarakat umumnya dan para pemirsa Trans7 khususnya. Kepiawaiannya memadukan humor dan tingkah uniknya membuat para pemirsa seakan lupa akan penderitaan akibat bencana yang tak pernah berhenti.

Kita telah mengalami bersama begitu banyak dan rutinya bencana yang menimpa negri kita akhir-akhir ini . Kecelakaan dan bencana alam terjadi hampir merata diseluruh sudut negeri tercinta ini. Semua ruang atmosfir negeri, baik darat, laut, maupun udara telah dihinggapi aroma ketakutan. Bahkan rumah tempat tinggalpun bukan lagi menjadi tempat bernaung yang aman, karena sekali waktu mungkin akan terendam banjir atau tertimbun tanah longsor. Rasa takut dan cemas menjadi santapan emosi sehari-hari. Sebagian besar aktifitas hidup menjadi terganggu oleh rasa tidak aman. Bahkan gelak tawa dan canda-ceria seakan hilang dari wajah anak negri. Akan tetapi hati yang galau itu seakan terhibur saat mendengar ocehan dan aksi seorang Tukul Arwana di acara Empat Mata.

Ketika saya melintas di sebuah lorong kecil, telinga saya mendengar beberapa penggal kalimat, …puas..! puas..! Tak sobek-sobek mulutmu….! Kembali ke lap…top! Kalimat-kalimat pendek ini sebenarnya adalah kata-kata yang selalu keluar dari bibir seorang Tukul ketika ia tampil di hadapan pemirsa. Ternyata kalimat-kalimat itu bukan lagi milik seorang Tukul, tetapi menjadi milik semua orang yang merasa terhibur ketika menyaksikan acara Empat Mata. Bahkan lebih dari itu, kalimat-kalimat itu sering terdengar dari ruangan-ruangan ber-AC, ruangan kelas di sekolah, gedung pertemuan, bahkan sampai dibeberapa televisi swasta lain. Saya lalu bertanya, apakah demam Tukul telah melanda habitat yang sedang galau hatinya ini? Apakah warga negri ini memang sedang haus hiburan? Apakah rakyat kita memang menginginkan sosok seorang penghibur sejati seperti Tukul Arwana? Ataukah rakyat kita sedang bosan bertemu terus dengan para penyusah?

Terlepas dari jawaban atas pertanyaan –pertanyaan tersebut, satu hal yang pasti bahwa kita tidak ingin terus tenggelam dalam kesedihan. Kita perlu bangkit dan menghapus air mata kesedihan untuk menatap masa depan. Isak tangis harus diganti dengan canda ria. Sehubungan dengan itu, sosok Tukul Arwana dengan Laptopnya telah menebar zat penenang, walau untuk sesaat, agar kita membangun kembali kekuatan menghadapi tantangan hidup yang terus menghadang. Tukul Arwana ibarat opium yang membuat orang melupakan rasa sakit, sedih dan gelisah walau untuk sesaat. Tampilan Tukul setidaknya telah mengahadirkan kembali senyum tawa di wajah anak negeri yang telah lebam oleh bencana. Tukul pula yang meramu suasana biasa-biasa menjadi luar biasa. Para pemirsa Trans7 berkali-kali dibuat tertegun ketika Tukul mengemas kata dengan nuansa negatif dari ucapan bibirnya menjadi sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Tidak hanya itu, sang ayahnya pun rela dihadirkan sebagai pelengkap dari kesukesesan entertainnya (hiburan).

Bob Losyk, (seorang pemerhati masalah stress), dalam bukunya yang berjudul: Kendalikan Stres Anda, mengatakan bahwa berbagai peristiwa sedih atau bencana yang dialami seseorang akan menimbulkan beban mental yang sangat berat bila orang tersebut tidak segera berupaya untuk keluar dari tekanan . Lebih lanjut ia mengatakan, untuk keluar dari tekanan jiwa, salah satu cara yang perlu ditempuh adalah sesering mungkin berada dalam suasana canda-ria. Dengan bercanda beban orang yang stress akan semakin berkurang.

Seperti pendapat Bob Losyk diatas, tidak berlebihan kalau saya mengatakan bahwa sosok Tukul dalam acara Empat Mata adalah obat stress bagi para pemirsa yang mengalami tekanan hidup akibat bencana yang rutin terjadi akhir-akhir ini. Bagi semua warga di luar para penikmat acara Empat Mata, mungkin kita juga membutuhkan banyak figur penghibur seperti Tukul Arwana. Kita membutuhkan banyak tokoh yang menebar keceriaan bagi warga, bukan tokoh yang menebar derita. Kita membutuhkan tokoh yang membuat warga tersenyum, bukan tokoh yang terhibur oleh air mata warga. Seandainya semua tokoh atau para pemimpin kita adalah penghibur sejati seperti Tukul Arwana rakyat tidak akan sering merintih dan menangis. Dengan demikian hidup bukanlah pekerjaan yang sulit untuk dijalani.







Oleh
FIDELIS GELE, S.Fil
(Pengajar SD YPPI II-Donokerto-Surabaya)
TULISAN INI TELAH DIMUAT DI MAJALAH KANA, EDISI MEI 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar